Sejarah Tuanku Imam Bonjol

Sejarah Pahlawan Indonesia


Beliau lahir di Tanjung Bunga. Sumatra Barat pada tahun 1772.  Karena perjuangannya yang patut menjadi suri tauladan maka pemerintah Indonesia memverinya gelar pahlawan pejuang kemerdekaan pada tanggal 6 November 1973.

Tuanku Imam Bonjol memiliki nama asli Muhmmad Sahab. Beliau adalah seorang guru agama yang mendapat ilmu agama di Aceh dan kemudian bergelar Malim Basa. Sekembali ke Minangkabau, Beliau juga mempelajari ilmu perang disamping ilmu agama pada Tuanku Nanrenceh. Saat itu pertentangan antara kaum adat dan Paderi semakin memanas sehingga beliau membangun benteng dibukit Tajadi yang diberi nama Bonjol. Selanjutnya, beliau Iebih dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol. Pada tahun 1821, pecah perang sagdara antara kaum Paderi bersama para ulama yang ingin melaksanakan ajaran agama dengan baik dan kaum Adat. Peperangan ini tidak lepas darl poitik adu domba yang diterapkan Belanda. Kegigihan perjuangan Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya serta masih berkobarnya Perang Diponegoro membuat Belanda sangat kesulitan. Belanda pun memilih taktik berdamai dengan Kaum Paderi. Ketika Perang Diponegoro usai, Belanda memusatkan konsentrasi pada daerah-daerah di Sumatera Barat,termasuk Bonjol, daerah kekuasaan Imam Bonjo. Dalam perang ini, Belanda memaksa Sentot Ali Basya, seorang Panglima Perang Pangeran Diponegoro, untuk membantu menyerang pasukan Imam Bonjol. Namun, Sentot Ali Basya justru balik menyerang Belanda sehingga dibuang ke Bengkulu. Perebutan km can pengepungan Bonjol terjadi selama tiga tahun.

Bagaumana sesungguhnya knprah Tuanku Imam Bomot? Sungguh hebat perjuangan Imam Bonjol, berkalI-kali beliau mendapat kemenangan 66 soon) pertempuran. Kekalahan Belanda itu mempunyal akrbat yang luas Perdebatan sengit terjadi di kalangan petnnggi Belanda dc Betawi Memka menyangsikan kesanggupan tentara Belanda di Mmargkabau untuk menyelesaikan perang itu secara terhormat. Mereka khawabr daerah yang sudah dikuasai akan berbaluk melawan Belanda. Mereka bertekad lag: untuk segera merebut Bonjol karena menyangkut harga din pemenrnah Hindia Belanda. Pedawanan gigih rakyat Minangkabau di Bonjol sangat meletihkan Belanda. Nama baik pemerintah Hindia Belanda di dunia luar menjadi luntut. Panglima tentara Hindia Belanda, Mayor Jenderal Cochius. datang k0 Padang dan Bonjol. Ia mengadakan pengamatan dan penelitxan Iangsung pada tangga 9 Maret 1837. Pertahanan, persenjataan, dan perhubungan pasukan di Bonjol dengan daerah Iain disempurnakan. Panglirna tentara Hindia Belanda itu mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk berunding. Sungguhpun dalam keadaan sangat terjepit, ajakan itu ditolak deb Tuanku Imam Bonjol. Belanda kemudian merebut Padang Bubus dan Tanjung Bunga. Pertempuran sengit terjadi di sebuah bukit di dekat Benteng Bomol. Dari bukit itu. meriam Belanda menggempur BukitTajadi.

Tentara Belanda menggafi parit-parit untuk ber1indung. Tentara Imam Bonjol memindahkan air sungai dan menggenangi parit-parit itu. Pengepungan Benteng Bonjol semakin ketat. Meriam Belanda tak hentihentinya menghujaninya. Hubungan Benteng Bonjol dengan dunia Iuar hampir terputus sama sekali. Satu-satunya jalan yang terbuka ialah ke jurusan utara melalui Koto Marapak.Bantuan dari luar Benteng sudah tidak dapat diharapkan. baik makanan maupun senjata. Wamta dan anak-anak diungsikan ke Iuar benteng dan dibawa ke Koto Marapak. Akibat muntahan peluru meriam-meriam Belanda selama seminggu pada bulan Agustus 1837. Benteng Bonjof rusak hebat. Belanda memusatkan segala serangan untuk merebut Bukit Tajadi guna membungkam meriam-meriam pasukan Bonjol. Sebagai pancingan, Belanda melakukan gerakan tentara yang hebat di sebelah barat dan selatan.

Perhatian Imam Bonjol sepenuhnya dicurahkan ke arah gerakan itu. Pertahanan Bukit Tajadi tidak diperhatikan. Bukit Tajadi jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 15 Agustus 1837. Akibatnya, Benteng Bonjol menjadi lumpuh. Tentara Belanda memasuki Benteng Bonjol dari pintu gerbang timur dan bergabung dengan pasukan yang datang dari barat dan selatan.

Benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 16Agustus 1837. Tuanku Imam Bonjol dapat meloloskan diri ke luar benteng. Beliau terus memimpin perang gerilya di hutan-hutan. Keadaan badan beliau sudah sangat lemah, tetapi semangat beliau tetap membara.

Tuanku Imam Bonjol menyingkir ke Koto Marapak sambii mengobarkan semangat perlawanan. Pengejaran dilakukan terhadap diri Imam Bonjol. Keadaan menjadi berat sekali bagi pasukan Bonjol. Putera Tuanku Imam Bonjol bernama Yusuf, menyerah pada bulan September1837.

Tempat berikutnya yang menjadi persembunyian Imam Bonjol ialah Bukit Gadang. Tempat ini kemudian dikepung oleh Belanda, tetapi Imam Bonjo| sempat meloloskan diri ke Tujuh Lurah. Sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 28 Oktober 1837 ada undangan dari Residen Francis agar Imam Bonjol datang ke Palupuh untuk berunding. Kali ini beliau memenuhi undangan Belanda. Dengan ditemani puteranya dan tiga orang pengiring, Tuanku Imam Bonjol datang ke Palupuh.

Sesampainya di sana bukan Residen Francis -yang ditemui, tetapi sepasukan tentara Belanda yang telah siap untuk menangkap beliau. Tuanku Imam Bonjol segera ditawan pada tanggal 28 Oktober 1837. Beliau telah menjadi korban dari tindakan Iawan yang tidak bersikap kesatria.

Mula-mula beliau dipenjara di Bukittinggi, akan tetapi Belanda masih takut pengaruh Beliau, maka Beliau dipindah ke Padang kemudian pada tanggal 23 Januari 1838 di pindah ke Cianjur dan akhirnya di pindah ke Manado pada tanggal 19 Januari 1939.

Setelah menjadi tawanan Belanda selama 27 tahun Beliau wafat pada tangal 8 Nopember 1864 dalam usia 92 tahun.

0 Response to "Sejarah Tuanku Imam Bonjol"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel