Sejarah Sultan Agung Hanyokrokusumo

Assalamualaikum Wr.Wb
Salam Sejahtera
Ok lasung saja siapa sih yang igin mendapat nilai yang sempurna tentu saja semua menginginkanya tapi semua itu tidak didapat begitu saja bukan? semua butuh usaha dan proses yang panjang, kunci mendapat nilai yang sempurna dalah belajar dengan giat dan ulet, maka dari itu saya disini ingin sedikit membatu proses pembelajaran teman-teman semua dengan sedikit ilmu yang telah saya pelajari sebelumnya dijejajang sekolah.
Pada kesempatan kali saya akan membagikan ilmu sedikit yang telah saya pelajari disekolah semoga saja artikel kali benar-benar bermanfaat utuk teman-teman semua. Langsung saja disimak materinya:


Sejarah Sultan Agung Hanyokrokusumo

Sultan Agung Hanyokro kusumo merupakan raja ketiga Kerajaan Mataram Islam. Disebut Mataram Islam untuk membedakan dengan Mataram Hindu di Jawa Tengah. Ia adalah cucu dari Panembahan Senapati (Sutawijaya) dan putra Panembahan Seda Krapyak. Penembahan Senapati yang dilahirkan pada tahun 1591 merupakan pendiri Dinasti Mataram. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya d'itaklukkannya supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Kerajaan Mataram. Sultan Agung merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang semula berupa Kongsi Dagang Hindia Timur Jauh (VOC = Vereenigde Oost Indische Compagnie).

Kekuasaan Mataram pada masa itu meliputi hampir seluruh Jawa dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu, VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur. Selain VOC masih ada Kerajaan Banten yang tidaktunduk kepada Mataram.


PERJUANGAN SULTANAGUNG


Sultan Agung menyadari bahwa kehadiran Kompeni Belanda di Batavia dapat membahayakan kesatuan negara yang dalam hal ini terutama meliputi Pulau Jawa. Di samping VOC, masih ada kerajaan Banten di bawah Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak berada di bawah kekuasaan Mataram. Langkah pertama untuk menyatukan seluruh Jawa adalah mengadakan sejumlah penaklukan di daerah Jawa Timur. Oleh karena itu, Lasem ditundukkan (tahun 1616), disusul Pasuruan (1617) Tuban (1919), Madura (1624), dan Surabaya (1625). Dengan penguasaan kerajaan-kerajaan pesisir Jawa Timur untuk sementara dapat dicegah intervensi kekuasaan asing. Untuk menjaga agar para raja pesisir tidak memberontak dilakukan politik domestifikasi. Contoh yang dapat dikemukakan adalah ketika Madura dapat ditaklukkan, Pangeran Prasena yang dikhawatirkan akan memperkuat diri, oleh Sultan Agung diharuskan tinggal di Kraton Mataram. Di kraton, Prasena mendapat perlakuan baik dan dikawinkan dengan putri kraton yang bernama Ratu ibu. Baru setelah menunjukkan kesetiaan kepada raja, Prasena diperbolehkan memerintah Madura dan diberi gelar Pangeran Cakraningrat (l). Lewat strategi itu terbina hubungan yang baik dengan berbagai daerah yang telah ditundukkan. Kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan itu tidak merasa menjadi “wilayah bawahan" Mataram, tetapi merasa menjadi mitra yang diperhitungkan bahkan terbina hubungan kekeluargaan yang baik. Lewat usaha itu sebagian besar wilayah di Pulau Jawa dapat dibina dan disatukan.

 Untuk menghancurkan kedua musuhnya di Jawa Barat, Sultan Agung pernah menawarkan kerjasama dengan VOC untuk menghancurkan Banten. Setelah Banten hancur, barulah VOC mendapatkan gilirannya. Tawaran kerjasama itu ditolak oleh Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jendral VOC pada masa itu. Gubernur Jenderal itu rupanya mengetahui bila sesudah Kerajaan Banten dapat dihancurkan maka kongsi dagang itu akan menjadi sasaran berikutnya. VOC tetap memelihara pertentangan antara dua kerajaan itu dan memainkan pengaruhnya di setiap pergantian raja. Raja yang pro VOC akan didukungnya dengan membayar imbalan berupa penyerahan sebagian tanah kerajaan kepadanya.


TAK PERNAH KOMPROMI DENGAN BELANDA Serangan pertama dilakukan lewat laut dengan mengirim 50 kapal pada tahun 1628. Pasukan Mataram menyerang benteng Belanda dengan persenjataan tombak dan pedang. Untuk membendung serangan hebat itu, VOC mengerahkan 2.866 serdadu. Dalam pertempuran yang berlangsung siang dan malam itu, Belanda dengan meriammeriamnya berhasil menghalau pasukan Mataram. Setahun berikutnya, serangan kedua dilancarkan lewat darat. Dalam penyerbuan ini, pasukan Mataram mendapat perbekalan lebih baik. Pasukan-pasukan berkuda dilengkapi dengan gajah-gajah yang mengangkut meriam dan gudang-gudang makanan didirikan di Tegal dan Cirebon.

 Pasukan Mataram berhasil merebut Benteng Hollandia tetapi pasukan Sultan Agung tidak berhasil mempertahankan benteng itu karena bahaya kelaparan yang melanda.

Gudang-gudang perbekalan Mataram diketahui oleh mata-mata musuh yang rela “menjual” negerinya untuk kekuasaan asing. Setelah itu gudang perbekalan itu dibakar habis sehingga sangat menggagalkan rencana yang telah disusun rapi.

Sejak kegagalan itu Sultan Agung tidak lagi mengadakan inisiatif penyerbuan ke Batavia. Namun, raja itu tetap tidak mau berdamai dengan Belanda. Ia menutup kota-kota pelabuhan di sepanjang pantai Utara Jawa. Pelabuhan Jepara menjadi satusatunya bandar yang terbuka bagi dunia dalam perdagangan beras. Penutupan kotakota pelabuhan, seperti Surabaya. Tuban, dan Gresik menjadikan kerajaan Mataram meninggalkan sifat "agromaritim" (hidup dari hasil pertanian dan perdagangan lewat laut). Kerajaan itu menjadi kerajaan pedalaman yang hidup dari pertanian. Mataram menjadi terpencil karena tidak ada relasi dengan kekuatan-kekuatan lain, selain dengan Belanda.

Sampai wafatnya pada tahun 1645. Sultan Agung tetap tidak mau berdamai dengan VOC meskipun ada tawaran untuk itu. Penggantinya, Sunan Mangkurat I sepeninggal ayahnya segera mengadakan perdamaian dengan Kompeni yang menjadikannya bulanbulanan politik divide eit impera (adu domba = membagi dan menguasai) Belanda.

Periawanan Sultan Agung terhadap Kompeni Belanda memiliki makna sumbolis karena menjadi lambang perjuangan suatu bangsa untuk menegakkan kesatuan wilayah dengan mengusir penjajahan bangsa asing. Lewat tokoh Mataram itu. terasakan hasrat bangsa indonesia yang mendambakan kesatuan. baik wilayah maupun pemerintahannya. Sesungguhnya semangat yang sama pemah dicetuskan oleh Prabu Kartanegara dari Kerajaan Singasari dan Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit. Rupanya. semangat kebangsaan (nasioalisme) belum tumbuh di kalangan rakyat tetapi hanya terbatas di kalangan raja dan para bangsawan. Rakyat dengan mudah menjadi sasaran tipu muslihat Belanda. Langkah Su tan Agung itu menjadi inspirasi bagi bangsa IndoneSia di kemudian hari. Bahwa persatuan dan kesatuan memang mutlak dilakukan guna menghancurkan penjajah asing.

Terimakasih buat teman-teman semua telah mengunjungi blog saya yang alakadarnya ini, semoga artikel-artikel yang saya buat ini bisa benar-benar bermanfaat untuk teman-teman semua, apabila banyak kekurangan didalamnya mohon dimaafkan.
Salam Sukses..!!

0 Response to "Sejarah Sultan Agung Hanyokrokusumo"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel