Pengertian Qiyas

Pengertian Qiyas

  Qiyas menurut bahasa berati menyamankan atau mengukurkan sesuatu dengan orang yang lain. Para ahli Ushul Fiqih merumuskan qiyas dengan:

الحاق واقعةٍ لا نصّ على حكمها بواقعةٍ وردّ نصً بحكمها فى الحكم الّذى وردبه النّصّ لتساوى الوا اقعتين في علّته هذا الحكم

Artinya: “Menyamakan atau mengukur satu kejadian yang tidak ada nash tentang hukumnya dengan kejadian yang ada nash tentang hukumnya di dalam hukum yang disebutkan di dalam nash karena ada kesamaan antara dua kejadian itu di dalam ilat hukum tersebut”.

Dari rumusan di atas dapat dijelaskan beberapa hal :
a. Kejadia adalah واقعة peristiwa, perbuatan, tindakan yang tidak ada hukumnya atau belum jelas hukumnya baik di dalam Al-Qur'an maupun As-Su'nnah. Dalam ilmu Ushul F'iqih hal ini disebut “Far’un” فرع. Suatu peristiwa dapat disebut far'un apabila : adanya kemudian, ada kesamaan illat dengan peristiwa yang akan disamainya. Kejadian yang telah ada ketentuan hukumnya baik di dalam


Al Qur'an maupun sunnah disebut ashal atau disebut juga "maqiis'alaih" yaitu sesuatu yang akan di qiyaskan kepadanya, atau "musyabbahbih" yaitu yang alan diserupakan dengannya. suatu kejadian dapat disebut ashal apabila:
a. Hukumnya adalah hukum syariah amali dan berdasar nash.
b. Illat hukumnya dapat diketahui secara 'aqli.
c. Hukunya bukan merupakan cabang (far'un) dari ashal mansukh.
d. Nash hukum ashal tidak meliputi hukum far'un.
e. Hukum ashal adalah hukumn yang disepakati dan tidak mansukh.
f. Hukum pada ashal tidak mempunyai qiyas rangkap.
g. Illat yaitu suatu sifat yang menjadi dasar hukum pada ashal. Sifat ini pula yang harus ada far'un haramnya minum khamr adalah ashal karena ada nash yang menyatakan itu, yaitu firman Allah SWT  فا جتنبوه (maka jauhilah) karena sifatnya yang memabukkan. Perasaan anggur adalah far'un yang tidak yang tidak disebutkan hukumnya tetapi sifatnya saja yaitu memabukkan. Karena sifatnya sama maka rasa anggur dan semua makanan dan minuman yang memiliki sifat memabukan hukumnya disamakan dengan khamar yaitu haram.

Kata 'Illah ; penggunaannya senng tumpang tindih dengan sebab dalam hukum wadh'i, sabah biasanya berhubungan dengan suatu asalan yang tidak bisa dipahami akal. Jadi, setiap sabab pasti ah 'illah, tetapi tidak semua 'illah merupakan sabah.


Hukum ashal yaitu hukum suatu kejadian yang sudah disebutkan dan akan ditetapkan bagi far’un karena sama sifatnya (illatnya). Suatu sifat dapat dijadikan sebagai illat apabila : jelas atau dzonni (dapat dibuktikan), dapat dibatasi secara pasti منضبط sama antara ashal dengan far'un serta munasabah yaitu dugaan kuat bahwa sifat tersebut merupakan alasan hukum pada ashal, sehingga adanya menyebabkan adanya hukum dan tidak adanya mengakibatkan tidak adanya hukum.

0 Response to "Pengertian Qiyas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel