Pengertian Pembakang (Bughah) dan Hukum Pembakang

A. Pengertian Pembakang (Bughah)
Kata Bughah adalah jama' dari isim faiil (باغ) fi'ilnya (بغى- يبغى) yang berarti: mencari dan dapat pula berarti maksiyat: melampaui batas, berpaling dari kebenaran, zhalim, Para ulama memberi pengertian: "Mereka (bughah) ialah orang-orang yang menentang Imam (penguasa) dengan jalan keluar dari (pimpinannya) dan tidak mentaatinya atau menolak-kewajiban yang dibebankan kepada mereka dengan syarat, mereka mempunyai kekuatan, mempunyai takwil (alasan) tindakan mereka keluar dari pimpinan Imam atau tindakan mereka menolak kewajiban, mempunyai pengikut dan mempunyai imam yang diangkat.
   Jadi bughah dalam pengertian syara' adalah orang yang menentang atau memberontak kepada pemimpin pemerintahan Islam yang sah. Tindakan mereka dapat berupa keluar atau memisahkan diri dari kekuasaan serta pimpinan (imam) dapat juga berupa tidak mau mentaati perintah imam atau menolak kewajibankewajiban yang dibebankan kepada mereka, seperti zakat. Orang-orang yang berbuat demikian itu dapat disebut bughah dan diperlakukan hukum bughah terhadap mereka, jika telah memenuhi syarat-syarat:
a. Mereka mempunyai kekuatan, baik berupa pengikut maupun senjata. Jadi tindakan menentang Imam yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kekuatan tidak dapat diperlakukan hukum bughah.
b. Mereka mempunyai alasan mengapa mereka menentang imam, alasan mengapa mereka keluar dari pimpinan imam atau alasan mereka menolak melaksanakan kewajiban yang dibebankan pada mereka. Jika mereka tidak mempunyai alasan atau tidak mempunyai paham yang menurut mereka dapat menjadi dasar untuk menentang imam, maka hukum bughah tidak dapat diberlakukan pada mereka.
c. Mereka mempunyai pengikut yang yang setuju dengan mereka. Dengan demikian mereka mendapatkan kekuatan. Tanpa pengikut tidak tidak dapat dikatakan bughah.
d. Mereka mempunyai pimpinan yang ditaati. Tanpa pimpinan berarti mereka tidak mempunyai kekuatan sebab mereka tidak dapat bersatu dalam pendapat dan tindakan.


B. Tindakan Hukum terhadap Bughah
Terhadap bughah wajib diusahakanvagar mereka kembali taat itu dilakukan dengan harap, yaitu mula-mula dipergunakan cara yang paling ringan, kemudian jika tidak berhasil, dipergunakan dengan cara yang lebih berat dan seterusnya sampai cara yang paling berat. Secara tertib pelaksanaan tindakan tersebut ialah:
a. Mengirim utusan kepada mereka untuk mengertahui sebab-sebab melakukan pemberontakan. Apabila sebab-sebab itu ternyata tidak ketahuan mereka atau keraguan mereka, maka usahakan agar ketidaktahuan-atau keraguan itu hilang.

b. Jika dengan tindakan pertama tidak berhasil dan mereka tetap bertahan dengan pendapat mereka, tindakan selanjutnya adaklah menasihati mereka dan mengajak untuk mentaatii imam yang sah.

c. Jika usaha kedua itu pun tidak berhasil, maka tindakan ketiga adalah memberi ultimatum atau ancaman akan diperangi, jika dengan ultimatum itu mereka itu meminta waktu, harus diteliti apakah waktu yang diminta itu akan dipergunakan untuk merenungkan/memikirkan kembali pendapatnya atau hanya sekedar ingin mengulur-ulur waktu. Jika ada alasan bahwa mereka akan berpikir untuk menghilangkan keraguan mereka diberi kesempatan, tetapi jika ternyata mereka ingin mengulur waktu tidak perlu diberi kesempatan.

d. Jika dengan tindakan ketiga tersebut mereka masih tetap tidak mau kembali taat, tindakan terakhir adalah memerangi mereka sampai sadar dan kembali taat.


C. Setatus Hukum Pembangkang
Pembangkang (bughah) tidak dihukum kafir, karena Allah sendir menyatakan dalam, surat Al Hujurat ayat 9 tersebut dengan ungkapan وان طأىفتان من المؤمنين اقتتلوْا Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang jadi kaum pembangkang masih dalam kelompok orang-orang mukmin, jika mereka taubat, taubatnya diterima, mereka tidak boleh lagi diperangi.
  Oleh sebab itu, tawanan kaumpembangkang tidak beiehdibunuh, tetapi cukup ditahan saja, hingga mereka kembali sadar harta kekayaan mereka yang terlanjur dirampas tidak boleh dijadikan sebagai ghonimah/harta rampasan perang. Apabila mereka sudah insaf harus dikembalikan lagi. Mereka yang tertawan dalam keadaaan luka parah harus dirawat. Pada saat terjadi perang jika mereka mundur, tidak boleh dikejar.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah bahwa: Pada waktu terjadi perang Jamal. Ali ra menyuruh agar diserukan: Yang telah mengundurkan diri jangan dikejar. Yang luka-Iuka jangan segera dimatikan. Yang tertangkap jangan dibunuh. Dan barang siapa meletakkan senjatanya, harus diamankan. (Mughni Muhtaj) (DEPAG,haI.276-280)

0 Response to "Pengertian Pembakang (Bughah) dan Hukum Pembakang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel