Pengertian Zina, Dasar Hukum Zina dan Hikmah di Haramkan Zina

a. Pengertian Zina
   Adalah memasukan alat kelamin lai-laki ke dalam alat kelamin perempuan yang haram menurut perbuatan, bukan karena subhat dan perempuan itu mendatangkan sahwat.
ايلاجُ الذّكر بفرْج محرّم بعيْنه خالٍ عن الشّبةِ مشهي

b. Dasar Penetapan Hukum Zina
   Had zina dapat dilanjutkan pelaku perbuatan zina, jika yang bersangkutan benar-benar melakukannya. Untuk itu diperlukan penetapan secara syara'. Rasulullah sangat berhati-hati, melaksanakan had zina ini. Beliau tidak menjatuhkan hukuman sebelum yakin bahwa yang dituduh atau mengaku berzina itu benar-benar berbuat. Adapun yang dapat dipergunakan untuk menetapkan secara yakin menurut syara' bahwa seorang itu telah berzina, ada dua macam yaitu:
a. Empat orang saksi laki-Iaki yang Samuanya adil. Dan keempat memberikan kesaksian yang sama tentang tempat, waktu, pelaku, dan cara melakukannya. Jika syarat-syarat tidak terpenuhi , maka belum dapat ditetapkan secara syar'i bahwa yang bersangkutan telah berbuat zina. Firman Allah swt:

وَاللَّاتِي يَأْتِينَ الْفَاحِشَةَ مِنْ نِسَائِكُمْ فَاسْتَشْهِدُوا عَلَيْهِنَّ أَرْبَعَةً مِنْكُمْ
Artinya: Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang menyaksikannya) (An-Nisa:15)

b. Pengakuan pelaku, seperti dilakuakan pada masa Nabi sebagai mana hadist riwayat jabir ra:
عن جابربن عبدالله الا نصا ايّ انّ رجلاً من اسلم اتى رسول الله ص م فحدّثه فشهد على نفْسهه اربعة سهادات فأمر به رسول الله ص م فر جم وكان قدْ أحصن

Artinya : “Dan Jabir bin Abdullah aI-Anshari ra. Bahwa seorang laki-laki dari bani Aslam datang kepada Rsulullah saw dan menceritakan bahwa ia telah berzina. Pengakuan ini diucapkan empat kali. Kemudian Rasulullah menyuruh supaya orang tersebut dirajam dan orang . tersebut adalah muhson”. (HR. Muslim)
Sebagian ulama ada yang berpendapat kehamilan perempuan tanpa suami dapat dijadikan dasar penetapan perbuatan zina. Akan tetapi Jumhur ulama berpendapat sebaliknya. Kehamilan saja tanpa pengakuan atau empat orang saksi tidak dapat dijadikan sebagai dasar penetapan zina.
Had zina dapat dijatuhkan terhadap pelakunya, jika telah terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1) Pelakunya sudah baligh dan berakal.
2) Perbuatan zina dilakukan atas kemauan sendiri (tidak dipaksa)
3) Pelakuya mengetahui bahwa zina adalah perbuatan yang diancam dengan had.
4) Telah yakin secara syara' bahwa yang bersangkutan benar telah berzina seperti diterangkan sebelumnya.

c. Hikmah di haramkannya Zina
   Zina merupakan sumber kejahatan dan penyebab pokok kerusakan dan termasuk dosa besar. Hikmah diharamkannya antara Iain:
a. Memelihara dan menjaga keturunan dengan baik. Karena adanya anak dari hasil zina, umumnya tidka dikehendaki dan kurang disenangi.
b. Menjaga dari jatuhnya harga diri dan rusaknya kehormatan keluarga.
c. Menjaga tertib dan teraturnya urusan rumah tangga. Biasanya seorang istri, apabila suaminya cenderung melakukan perbuatan zina timbul rasa benci dan ketidak harmonisan dalam rumah tangga.
d. Timbulnya rasa kasih sayang terhadpa anak yang dilahirkan dari pernikahan yang sah. (DEPAG , hal. 235-248)

0 Response to "Pengertian Zina, Dasar Hukum Zina dan Hikmah di Haramkan Zina"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel