Hukum Pernikahan

Hukum Pernikahan

Jumhur (mayoritas) ulama menetapkan hukum menikah ada lima: mubah (boleh sunnat, wajib, makruh dan haram.

Pengertian Hukum Pernikahan


a. Sunat
 Mereka sepakat bahwa hukum asal pernikahan adalah sunat. Mereka beralasa dengaan Sabda Rasulullah saw.                                             

مَعْشَرَ الشّباب من استطاع الْبَاءةَ فَلْيَتَرَوْ فَإِنَّهُ أغض للبصر وأحصن الفرج ومن
(لم يستطع فَعَلَيْهِ بالصوم فإنه له وجاة (متفق عليه

Artinya Wahai para pemuda, siapa diantaramu yang sudah mempunyai kemampuan untuk menikah, menikahlah karena menikah itu lebih memelihara pandangan mata dan lebih mengendalikan seksual. Siapa yang belum memiliki kemampuan, hendaklah ia berpuasa, karena puasa merupakan penjagaan
baginya (Muttafaq Alaih)

Selanjutnya hukum nikalh bisa berubah-ubah menjadi mubah wajilb, makruh dan haram dalam hal itu tergantung maksud dan kondisi atau keadaan orang yang bersangkutan.

b. Mubah
Menikah hukumnya menjadi mubah atau boleh bagi orang yang tidak mempunyai faktor pendorong atau faktor yang melarang untuk menikah. Ini  beralasan kepada umumnya ayat dan hadits yang menganjurkan menikah.

c. Wajib
Seseorang yang dilihat dari pertumbuhan jasnmaniahnya sudah layak untuk menikah, kedewasaan rohaniahnya sudah matang dan memiliki biaya untuk menikah serta untuk menghidupi keluarganya dan bila ia tidak menikah khawatir terjatuh pada perbuatan mesum atau zina hukum, maka menikahnya wajib. Hal ini didasarkan pada hadits riwayat Bukhari Muslim di atsa.

d. Makruh
Seseorang yang dipandang dari pertumbuhan jasmaniahnya sudah laik untuk menikah kedewasaan rohanianya sudah matang tetapi ia tidak mempunyai biaya untuk bekal hidup beserta isteri kemudian anaknya ia makruhkan untuk menikah dan dianjurkan untuk mengendalikan nafsunya melalui puasa. la lebih baik tidak menikah dahulu, karena menikah baginya akan membawa kesengsaraan juga
istri dan anaknya.

e. Haram
Pernikahan menjadi haram hukumnya bagi seseorang yang menikahi wanita dengan maksud menyakiti, mempermainkan dan memeras hartanya. Demikian juga nikah dengan wanita yang haram dinikahi. Hal itu seperti memadu dua perempuan bersaudara pada waktu yang sama. Jika seseorang menikah dengan maksud demikian, nikahnya sah karena memenuhi syarat dan rukunnya yang formal. Hanya ia berdosa karena maksud buruknya itu. la tidak berdosa kalau maksud buruk itu dihalangkan dan diganti dengan maksud yang baik.

0 Response to "Hukum Pernikahan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel